Jumat, 08 April 2011

Aliran Sesat dan Patologi Spiritualitas

Opini Lampost : Jum'at, 8 April 2011



DAMANHURI
Periset lepas, bergiat di IAIN Raden Intan Lampung

Belum lagi kasus-kasus klaim kenabian (palsu) yang dilakukan oleh para pemimpin kelompok keagamaan seperti Al-Qiyadah al-Islamiyah, Salamullah-Lia Eden, atau Ahmadiyah—yang tak jarang memunculkan praktek ”kriminalisasi”—lekang dari ingatan kolektif kita, kasus hampir serupa tiba-tiba juga hadir di sini. Seperti diberitakan Lampung Post, 1-2 April 2011, seseorang berinisial Mo mengaku telah mendapat wangsit dan menahbiskan diri sebagai "wakil nabi".

Lalu, pesan penting apa yang bisa kita tangkap dari kemunculan beragam fenomena keagamaan yang dianggap menyimpang itu? Langkah tepat apa pula yang seharusnya dilakukan oleh organisasi atau lembaga keagamaan mapan seperti NU, Muhammadiyah, MUI, juga umat Islam pada umumnya?

Sebagai salah satu penjaga ortodoksi Islam, cukupkah organisasi dan lembaga keagamaan sarat wibawa seperti MUI sekadar mengeluarkan fatwa sesat dan kemudian membiarkan para pelakunya diseret ke pengadilan dengan tudingan “penistaan agama”, misalnya? Dan, sebagai bagian dari umat Islam yang mendaku diri sebagai umat yang telah sahih dalam beragama, patutkah langkah yang kita ambil hanya meluruskan telunjuk dan menghardik mereka sebagai penganut aliran sesat sembari berusaha mengusir mereka agar hengkang jauh-jauh dari lingkungan kita—bahkan kalau perlu dengan kekerasan?

Beberapa pertanyaan bernada menggugat di atas, hemat saya, sangat penting untuk dilontarkan; karena, hingga saat ini, sebatas itulah biasanya respons yang paling kerap kita berikan tiap kali muncul kelompok-kelompok keagamaan yang (dianggap) keluar dari arus utama Islam. Jarang sekali muncul kesadaran kolektif di antara kaum muslim untuk sejenak berefleksi: jangan-jangan kita pun sebenarnya ikut “menyumbang” bagi lahirnya gejala keagamaan yang kita anggap menyimpang tersebut. Jangan-jangan apa yang mereka lakukan adalah “produk sampingan” dari praktek keagamaan kita selama ini yang diakui atau tidak cenderung kian ritualistik, boyak, elitis, dan asosial.

Kritik atas Ortodoksi

Membaca fenomena "aliran sempalan" (splinter groups)—jika istilah ini boleh digunakan—secara teologis semata sebenarnya akan sulit mengelak dari kecenderungan untuk menyederhanakan persoalan. Sebab, selain tak akan meneroka akar persoalan yang sebenarnya, penghampiran yang melulu menggunakan lensa teologis memang hanya akan berakhir dengan melakukan reiterasi satu kesimpulan klise yang telah berusia setua perdebatan mengenainya: sesat atau sahih.

Meskipun, memang, saat membincang "kasus-kasus heretik" atau persoalan kelompok sempalan mau tak mau kita harus bertolak dari sebuah batasan yang lazim tentang ortodoksi. Sebab, dengan menyebut seseorang atau suatu kelompok sebagai "heretik", "sesat", atau "sempalan", pada detik yang sama kita sebenarnya mengandaikan adanya ortodoksi kepada (si-)apa seseorang atau suatu kelompok dianggap memisahkan diri atau menyempal.

Karena itu, sembari mempersiapkan langkah-langkah preventif bagi kemunculan kelompok-kelompok sempalan di masa yang akan datang, daripada hanya mencari (-cari) dalil pembenaran untuk menjatuhkan dakwaan kesesatan atas apa yang mereka lakukan, barangkali akan lebih penting untuk mencoba menyigi latar belakang sosial, politik, dan mungkin juga ekonomi yang kemudian berkelindan dalam gerakan-gerakan tersebut.

Sebab, seperti ditunjukkan Martin van Bruinessen (1992: 16-27), hampir semua gerakan sempalan di Indonesia yang ditelitinya selalu lahir sebagai akibat sampingan dari proses modernisasi yang berlangsung cepat serta pergeseran nilai yang akhirnya memaksa mereka mencari ruang yang diandaikan sebagai “tempat berlindung” yang aman. Tilikan itu kian dikuatkan oleh kenyataan, menurut Bruinessen, kelompok-kelompok tersebut biasanya tidak muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di pinggirannya.

Tapi, poin akhir dan terpenting dari penelitian Bruinessen adalah kesimpulannya yang menemukan fenomena gerakan kelompok sempalan sebagai upaya mereka memberikan "komentar" atau kritik atas ortodoksi. Karena itu, kegagapan dan ketidakmampuan ortodoksi dalam meresponnya secara tepat, tidak mustahil hanya akan berkonsekuensi memosisikan para penjaga ortodoksi dan semua umat Islam justru sebagai tertuduh: penyebab fenomena penyimpangan tersebut.

Buah Patologi Agama (?)

Dengan membaca fenomena "wakil nabi", Lia Eden, Ahmadiyah, dan gerakan sejenis sebagai sebuah kritik atas ortodoksi, umat Islam pun bisa diharapkan kian insyaf bahwa bisa jadi memang ada yang salah dalam praktek keagamaan selama ini. Apalagi, kalau kita mau jujur, rasanya sulit untuk menampik kenyataan bahwa arus besar keagamaan kita pun tak bisa sepenuhnya mengelak dari patologi sosial-keagamaan yang telah jauh mengkhianati elan dasar ajaran Islam. Patologi spiritualitas yang selama ini tertutup rapi oleh gemerlapnya seremoni dan ritual kegamaan di mana-mana.

Bukankah ulama kita di MUI lebih suka membuat fatwa haramnya bunga bank sembari menikmati segala fasilitas yang sebenarnya juga diambil dari hasil ekonomi rente itu? Bukankah para dai kita (di TV) lebih sibuk memasang tarif dan menyambangi tempat-tempat ceramah yang “basah” ketimbang mengunjungi, menyantuni, dan menyapa jemaah miskin yang mengalami kegersangan spiritual akibat persoalan ekonomi yang mengimpit?

Kita lebih suntuk disibukkan oleh isu-isu moral tentang bahaya pergaulan bebas akibat keterlambatan perkawinan tapi lalai menyeru dan mendesak pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan agar kaum muda bisa menikah tepat pada waktunya!

Di seberang lain, para politisi yang mengkalim sebagai representasi umat Islam pun ternyata lebih disibukkan oleh vested interest-nya masing-masing. Dengan cara yang tidak jauh berbeda, hal yang sama sebenarnya juga dilakukan organisasi-organisasi ekstrakampus yang memanggul-manggul nama Islam seperti HMI, IMM, KAMMI, atau PMII; karena tetek bengek organisasi yang tak bersangkut-paut dengan urusan umatlah yang biasanya lebih banyak menyita kesibukan mereka.

Jadi, bukankah makin jelas, bahwa patologi sosial keagamaan yang kita lakukan bersama itulah boleh jadi yang menghasut mereka untuk mendapatkan apa yang dianggap “jaring pengaman spiritual” (spiritual safety net) justru dalam aliran sesat atau kelompok sempalan; bukan dalam Islam arus utama atau ranah ortodoksi yang lebih sibuk dengan urusan masing-masing?

Karena itu, masih tak malukah kita hanya "menyalah-nyalahkan" mereka yang sesungguhnya lebih sebagai korban dari ketidakpedulian, buruknya pendidikan agama, dan gagalnya arus utama umat Islam dalam menyediakan spiritual sanctuary mereka? Maka, ketimbang mengutuki kegelapan yang tengah meliputi ruang hidup mereka, lebih baik kita berikhtiar menyalakan lilin untuk mereka. Segera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar