Senin, 03 Oktober 2011

Kekuasaan dan Kewenangan

SUDJARWO
Guru Besar FKIP Unila

BEBERAPA hari lalu saya diajak pimpinan FKIP Universitas Lampung untuk menjumpai sahabat, sekaligus pimpinan dari suatu perusahaan raksasa di Lampung ini.

Orangnya sangat sederhana untuk ukuran seorang big bos. Dengan pakaian kasual khas manajer, di ruang rapat sederhana untuk ukuran perusahaan raksasa. Bicaranya sangat runtut tanpa dibebani emosi, ditambah lagi sangat agamis. Beliau mengemukakan jalan pikiran dengan sangat lugas, bahkan sangat akademis. Kemampuan yang demikian ini terasah seiring perjalanan pengalaman beliau yang merambat untuk mencapai jabatan puncak dengan memulainya dari jabatan paling rendah.

Dari diskusi panjang yang beliau uraikan ada satu benang merah yang beliau tegakkan, yaitu membedakan antara kekuasaan dan kewenangan. Beliau memberikan batasan keduanya secara tegas. Kekuasaan dimaknai sesuatu yang tidak terbatas. Jika itu melekat pada manusia, cenderung manusia akan melebihi Tuhannya. Sementara kewenangan dimaknai sebagai amanah, yaitu tugas ke-Tuhanan yang harus diemban manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Semua ucap dan tindakan harus dipertanggungjawabkan kepada si pemberi kewenangan. Oleh karena ini merupakan kelemahan kodrati dari manusia, sangat dimungkinkan jika manusia memperoleh sedikit kekuasaan akan cenderung berubah wujud "triwikrama" menjadi Batara Kala yang sangat rakus. Bahkan untuk mencegah kerakusan ini harus diberi perlakuan ruwatan.

Kekuasaan yang cenderung membawa si kuasa hilang kendali karena hal itu merupakan sunatullah, maka bagi si kuasa yang menyadari akan kelemahan ini, mereka akan cepat-cepat mengambil langkah. Pertama, dia dapat dengan segera melepaskan kekuasaannya. Kedua, mengalihkan kekuasaan itu menjadi wewenang. Untuk mengalihkan hal tersebut diperlukan pengalaman yang panjang, bahkan tidak jarang diperlukan pengalaman spiritual tersendiri.

Keadaan yang demikian ini menjadikan kesulitan tersendiri bagi kebanyakan kita, karena pengalaman spiritual individu berbeda antara satu dan lainnya. Akibat lebih lanjut, manusia cenderung mengikuti apa saja yang telah menjadi nalurinya. Keadaan ini menjadi sulit jika naluri tadi memiliki kecenderungan untuk merusak. Kerusakan yang bersumber dari naluri ini memiliki kecenderungan sangat parah. Sebagai contoh bagaimana Nazi Jerman dengan ringan membunuh para tahanan, khususnya orang-orang Yahudi. Mereka dalam melaksanakan tugas seolah tidak berdosa. Hal ini terjadi karena konsep untuk membunuh orang Yahudi sudah dimasukkan pada ranah naluri, sehingga pada waktu melihat orang Yahudi insting untuk membunuh seketika muncul. Ini berbahaya jika melekat pada kekuasaan yang berinsting korup. Sehingga jika tidak melakukan korup menjadi seolah-olah ada sesuatu yang salah. Seolah-olah sama dengan pada waktu kita melihat ular; insting ingin membunuh langsung muncul, padahal ular itu belum tentu membahayakan kita.

Kehilangan Empati

Benturan kekuasaan dan kewenangan pun setiap hari kita menemukan contoh, dari yang tingkat nasional, seperti adu kerasnya antara KPK dan DPR, sampai dengan peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tidak mengenakkan. Semua ini seolah memberikan pembenaran bagaimana kekuasaan menjadi dewa bagi sebagian orang. Bahkan demi segenggam kekuasaan manusia bisa saling bunuh. Tidaklah salah jika ada sebagian kita menganut paham "segenggam kekuasaan lebih berharga dari sejuta kebenaran." Paham ini sekarang menjadi meluas, terutama melanda kaum muda di negeri ini.

Ada sesuatu yang hilang pada masa kini, yaitu rasa empati yang bermakna merasakan yang orang lain rasakan. Yang ada sekarang justru "silakan rasakan sendiri yang kalian peroleh." Kondisi seperti ini menjadikan rasa peka (sensitif) terhadap orang lain sudah tidak ada. Kulit badak sudah menyelimuti hampir semua orang. Atas nama kekuasaan menjadikan semua cara dan kelakuan dapat diperbuat.

Semua berpulang kepada kita semua. Nasihat sudah banyak didendangkan, agama sudah luas disyiarkan, setan pun sudah takut dengan manusia. Sekarang tinggal manusianya memilih jalan yang akan ditempuh. (***)
Share this post

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar