Kamis, 10 November 2011

Pahlawan di Era Pembangunan

JUSMAN DALLE
Pengurus KAMMI Pusat


DALAM sejarah, pahlawan tidak pernah lahir dari realitas yang stabil. Pahlawan selalu hadir dari ketimpangan, krisis, dan gelombang problema. Pahlawan tidak muncul tiba-tiba. Pahlawan diciptakan lingkungannya. Oleh karena itu, jalan kepahlawanan selalu rumit dan jumlah pahlawan selalu sedikit. Pahlawan adalah orang-orang yang memilih jalan yang berbeda, bahkan sering kali melawan arus sejarah.

Dahulu, sebelum Indonesia merdeka, jalan kepahlawanan dibentangkan oleh perang. Kita mengenal para pahlawan dari pejuang di medan perang. Karena memang saat itu yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah orang-orang yang merelakan hidup untuk mengusir penjajah.

Seiring perjalanan sejarah, definisi kepahlawanan tidak lagi dideterminasi oleh satu bidang. Pekembangan kebutuhan bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan menyebabkan panggung kepahlawanan terbentang seluas-luasnya. Bukan hanya di Indonesia, melainkan dalam kehidupan global pahlawan bisa datang dari ranah kehidupan yang beragam.

Di Bangladesh kita mengenal Muhammad Yunus, pahlawan bagi orang-orang miskin yang mendirikan Grameen Bank. Bank yang memudahkan akses pinjaman bagi masyarakat yang tidak punya jaminan untuk mengajukan kredit. Atau baru-baru ini, dalam gelombang revolusi di Timur Tengah ada dua nama pahlawan yang kita kenal karena mereka setidaknya memantik ekskalasi demokratisasi.

Di Tunisia ada Mohammed Bouazizi yang membakar dirinya setelah dilarang berjualan sayur. Di Mesir ada Whail Ghonim, eksekutif muda Google, perusahaan berbasis teknologi infomasi. Melalui jejaring sosial, Whail menggalang dukungan massa untuk melakukan demonstrasi hingga tuntutan revolusi turunnya rezim Hosni Mubarak.

Mereka, pahlawan di era digital dan modern ini, menemukan takdir kepahlawanan dengan berawal dari keresahan melihat disparitas sosial. Keresahan itu kemudian memantik untuk bertindak riil, menawarkan solusi.

Kaum Muda

Di era pembangunan, indeks pembangunan manusia (human development index [HDI]) merupakan salah satu parameter tingkat kemajuan bangsa. HDI dperoleh dari perpaduan dari indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks pendapatan.

Data teranyar dari badan dunia untuk program pembangunan UNDP menunjukkan jika pada 2011 peringkat HDI Indonesia melorot drastis dari posisi peringkat ke-111 dari 182 negara ke posisi 124 dari 187 negara. Tahun 2011, pendidikan dan ekonomi merupakan dua sektor utama yang menyebabkan peringkat HDI Indonesia menempati peringkat bawah.

Nalar logisnya tentu sangat sederhana, bahwa tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan efek domino. Akses ekonomi terbatas sehingga pengangguran merajalela. Tingkat kesejahteraan rendah yang sering kali memantik problem sosial seperti kekerasan, radikalisme, hingga gerakan separatis yang mengancam kedaulatan bangsa seperti yang terjadi di Papua saat ini.

Kaum muda merupakan entitas masyarakat yang mendapat perhatian besar. Karena menjadi tumpuan harapan masa depan bangsa, kaum muda harus diselamatkan dari berbagai problem yang potensi merusak peran organiknya. Salah satu problem yang membayangi kaum muda saat ini adalah tingkat pengangguran yang tergolong cukup tinggi.

Pemuda yang termasuk kategori usia produktif (16—30 tahun) tidak melanjutkan sekolah dan tidak mempunyai pekerjaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), 12 juta orang atau 17% dari 70 juta pemuda yang termasuk kategori usia produktif kini mengganggur.

Dilihat dari latar belakang pendidikannya, 27,09% berpendidikan SD ke bawah, 22,62% SLTP, 25,29% SMA, dan 15,37% SMK. Sedangkan jika dilihat lokasi desa/kota, penyebaran dari pemuda ini sebanyak 5,24 juta orang (53%) berada di perkotaan dan 4,2 juta orang di perdesaan.

Selain tingkat pendidikan, salah satu problem yang menjadi penyebab besarnya tingkat pengangguran di kalangan pemuda adalah masih rendahnya minat untuk berwirausaha. Padahal, entrepreneurship atau kewirusahaan cukup efektif dalam menyerap tenaga kerja. 70% tenaga kerja diserap sektor entrepreneurship.

Hal ini terlihat dari data Kementerian Pendidikan Nasional yang memperlihatkan pada umumnya 60,87% lulusan SLTA dan 83,18% perguruan tinggi lebih minat menjadi pekerja atau karyawan (job seeker) dibandingkan dengan yang berupaya menciptakan lapangan kerja melalui entrepreneur. Oleh karenanya, pertumbuhan dunia usaha juga tidak begitu akseleratif.

Yang menyedihkan, ternyata pengangguran didominasi lulusan sarjana dan diploma atau usia produktif alias kaum muda. BPS menguraikan jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78% atau sekitar 2 juta jiwa pada kedua tingkat pendidikan tersebut.

Kewirausahaan

Seperti diuraikan di awal tulisan ini, pahlawan hadir karena stimulus lingkungan strategis eksternal. Dengan demikian, dalam konteks era pembangunan, pahlawan berarti mereka yang berjuang dan mampu berkontribusi secara aktif mengisi pembangunan.

Salah satu potensi besar adalah keterlibatan kaum muda dalam dunia entrepreneurship. Dengan entrepreneurship kita bisa menciptakan lapangan kerja, mengurai kemiskinan, menghentikan pengangguran yang secara tidak langsung meningkatkan kualitas hidup masyarakat, utamanya kaum muda.

Potensi dunia entrepreneurship belum teroptimalisasi menjadi tantangan bagi kaum muda. Mulai dari bahan baku yang melimpah dari sumber daya alam (SDA) hingga pasar yang sangat besar yaitu 237 juta penduduk Indonesia.

Sebagai negara yang memiliki potensi terbesar di ASEAN, baik SDA maupun SDM, Indonesia harus memimpin. Proyeksi pertumbuhan industri harus dicermati dengan membidik sektor strategis di masa depan.

Berdasarkan peta SDA, identifikasi yang dilakukan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bersama tim ekonomi Universitas Indonesia menunjukkan kini terdapat 66 industri yang bisa dikembangkan, yang terbagi dalam beberapa sektor, mulai dari agroindustri, pertambangan, tekstil, pariwisata, dan industri kreatif. (*)

Sumber : Lampost 10 Nov. 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar